Liberalisasi dan Komersialisasi Sektor Kesehatan

 OPINI, PERNAK PERNIK DAN UNIK

Telah menjadi rahasia umum bahwa sektor kesehatan tidak lagi dipandang sebagai sektor sosial yang fundamental bagi kemajuan bangsa yang menuntut peran penuh negara. Kesehatan telah menjadi sektor bisnis sehingga berorientasi profit semata. Urusan kemanusiaan dapat dengan mudah dikesampingkan. Akses terhadap kualitas kesehatan pun disesuaikan dengan kemampuan individu untuk membayar, bukan dilihat sebagai hak universal yang dibutuhkan oleh seluruh manusia.

Kecenderungan komersialisasi kesehatan ini dibuktikan dari beberapa indikator berikut:

1. Jumlah Rumah Sakit dan Klinik swasta lebih besar dibandingkan pemerintah. Perbandingannya mencapai 60:40. Data Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) mengungkapkan bahwa pertumbuhan Rumah Sakit Swasta per tahun rata-rata sebesar 7%, sementara Rumah Sakit publik hanya 3%.

2. Lebih dari 90% bahan baku Industri Farmasi masih diimpor. Sementara liberalisasi di sektor ini telah mendatangkan investor asing dalam jumlah signifikan sejak tahun 2010. Terintegrasinya sektor farmasi dalam ekonomi regional dan global ini membuat harga obat-obatan mengalami kenaikan yang konsisten.

3. Sekitar 92% Alat Kesehatan masih diimpor, mulai dari alat-alat besar dan berteknologi tinggi sampai dengan jarum dan benang. Sekalipun ada wacana sejak 2016, tapi belum tampak dukungan serius dari pemerintah untuk mengembangkan produksi Alkes di dalam negeri.

4. Biaya Pendidikan Kedokteran masih sangat mahal. Untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Negeri dibutuhkan uang pendaftaran sebesar 150 juta hingga 300 juta rupiah. Sementara di universitas swasta antara 300 juta hingga 500 juta rupiah. Belum termasuk biaya kuliah per semester, biaya praktik, dll. Mahalnya biaya pendidikan untuk kedokteran ini berkorelasi langsung dengan mahalnya biaya kesehatan.

ā˜•n’šŸŒ¹

Rate News

Berita Terkait



KABAR BERITA TERBARU

Tinggalkan Balasan